KJtrending.com - Klungkung - Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida, termasuk Lembongan dan Ceningan di Kabupaten Klungkung, Bali, terus meningkat setelah hampir tiga tahun dihantam pandemi COVID-19. Wisatawan domestik maupun mancanegara cukup membayar tiket masuk Rp 25 ribu per orang dewasa atau Rp 15 ribu untuk anak-anak. Dengan tarif segitu, wisatawan sudah bisa mengunjungi seluruh objek wisata di Nusa Penida yang dikelola oleh pemerintah daerah.
"Tiket yang dipegang wisatawan ini bisa digunakan selama ada di Nusa Penida, tidak bayar lagi di objek yang dikelola pemerintah daerah," kata Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Ni Made Sulistiawati kepada Bali.kjtrending.com, Sabtu (1/7/2023).
Tiket masuk Nusa Penida itu dapat diambil di empat pos, yakni Pelabuhan Sampalan, Pelabuhan Buyuk, Pelabuhan Banjar Nyuh, dan Devil's Tear. Dari keempat pos tersebut, hanya pos Devil's Tears di Nusa Lembongan yang sudah menerapkan tiket elektronik alias e-ticketing. Sedangkan, tiga pos lainnya masih menggunakan tiket manual atau sistem karcis.
Menurut Sulistiawati, wisatawan yang tercatat masuk melalui pos Devil's Tear pada periode Januari-Mei 2023, yakni 506 wisatawan domestik dan 22.137 wisatawan mancanegara. "Jumlah pemasukan yang diperoleh dari kunjungan turis ke Nusa Penida pada Januari-Mei 2023, yakni Rp 4,45 miliar lebih," imbuhnya.
Sulistiawati mengungkapkan meningkatnya kunjungan ke Nusa Penida sudah terasa sejak awal 2022. Sepanjang 2022, kunjungan turis ke Nusa Penida mencapai 312.872 orang.
Berdasarkan catatan pada Januari-Mei 2023, total kunjungan sudah mencapai 205.969 orang. Rinciannya, Januari 25.682 orang, Februari (29.972 orang), Maret (33.688 orang), April (57.727 orang), dan Mei (58.900 orang). "Sehingga rata-rata kunjungan dari Januari hingga Mei 2023 sebanyak 1.364 orang per hari," imbuhnya.
Banyak yang Kucing-kucingan
Pelaku pariwisata di Nusa Penida mendukung pungutan masuk bagi wisatawan ke kepulauan Nusa Penida. Namun, mereka menyayangkan proses pemungutan tarif masuk itu belum dilakukan secara profesional sehingga kerap terjadi kebocoran.
"Misalnya ada wisatawan datang 10 orang, bayar cuma enam. Sisanya lagi empat entah ke mana uangnya. Bahkan banyak yang kucing-kucingan dengan petugas karena sistem yang masih lemah," kata seorang pelaku pariwisata Nusa Penida, Pande Wayan Guna Sesana.
